PENERAPAN ARSITEKTUR BIOMIMICRYPADA AVIARY CONSERVATION CENTRE DI SULAWESI TENGAH

Authors

Keywords:

Aviary Conservation Centre, Burung Endemik, Arsitektur Biomimicry, Keanekaragaman Hayati

Abstract

Aviary Conservation Centre di Sulawesi Tengah merupakan sebuah fasilitas yang dirancang khusus untuk melindungi dan memelihara burung-burung, terutama yang terancam punah. Pusat ini bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang aman dan sesuai bagi burung, dengan memperhatikan kebutuhan ruang berkembang biak, kondisi lingkungan yang optimal, serta upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konservasi burung. Selain berfungsi sebagai tempat penampungan dan observasi, Aviary Conservation Centre juga menjadi pusat penelitian dan edukasi yang fokus pada upaya konservasi alam. Dengan fasilitas yang memadai dan perawatan yang cermat, pusat ini berupaya meningkatkan populasi burung-burung terancam punah, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta mengintegrasikan komunitas manusia dengan ekosistem alam. Pendekatan arsitektur biomimicry diterapkan dalam desain Aviary Conservation Centre dengan meniru pola, struktur, dan proses alam. Konsep ini berlandaskan pada prinsip bahwa alam telah menghasilkan solusi yang efisien dan berkelanjutan selama jutaan tahun. Dengan meniru prinsip-prinsip tersebut, manusia dapat menciptakan lingkungan binaan yang lebih ramah lingkungan. Dalam konteks pusat ini, biomimicry digunakan untuk merancang bangunan dan fasilitas yang tidak hanya aman bagi burung tetapi juga mengintegrasikan elemen-elemen alam dari habitat asli mereka. Ini mencakup penggunaan material ramah lingkungan, desain ruang yang meniru struktur habitat alami burung, serta penerapan teknologi terkini untuk menciptakan kondisi optimal bagi kesejahteraan dan reproduksi burung. Dengan penerapan pendekatan arsitektur biomimicry, Aviary Conservation Centre tidak hanya berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi burung-burung langka tetapi juga sebagai contoh nyata kolaborasi antara manusia dan alam dalam menjaga keanekaragaman hayati serta mempromosikan keberlanjutan lingkungan.

References

BIRDLIFE INTERNATIONAL. (2024). IUCN Red List for Birds. Diakses pada 5 April 2024. dari https://datazone.birdlife.org/home

Butchart, S. H. M. and Baker, G. C. (2000) Priority sites for conservation of Maleos (Macrocephalon Maleo) in central Sulawesi. Biol. Conserv. 94: 79–91.

FROESE, GRADEN Z. L. & MUSTARI, ABDUL H. (2019). Assessments of Maleo Macrocephalon maleo nesting grounds in South-east Sulawesi reveal severely threatened populations. Bird Conservation International. 29: 497–502

Maniar, Anjali. (2019). Biomimicry in Architecture : A study of Biomimetic Design for Sustainability. BMS Collage of Architecture, Bengaluru.

Prayogi, Ganda H., (2019). Perancangan Oceanarium di Lamongan dengan Pendekatan Arsitektur Biomorfik. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Malang.

Ridwan, Mohamad. (2022. 2 Februari). Yayasan Komiu Sulteng temukan 30 jenis burung berstatus dilindungi. Diakses pada 26 Maret 2024. dari https://www.antaranews.com/berita/2679461/yayasan-komiu-sulteng-temukan-30-jenis-burung-berstatus-dilindungi

Ramadhan, Naufal Aditya & Setyawan, Wahyu. (2018). Ekoturisme: Arsitektur dalam Konservasi Satwa. JURNAL SAINS DAN SENI ITS, 7(2), 2337-3520

Triastuti, Feronika Ayu., (2013). KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KEBUN BINATANG PENDIDIKAN DI BOYOLALI DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret.

Downloads

Published

2026-01-25

Issue

Section

Articles

How to Cite

PENERAPAN ARSITEKTUR BIOMIMICRYPADA AVIARY CONSERVATION CENTRE DI SULAWESI TENGAH. (2026). Senthong, 9(1), 69-80. https://jurnal.ft.uns.ac.id/index.php/senthong/article/view/7